COOPERATIVE LEARNING
            Model pembelajaran yang kita yakini sebagai suatu kerangkah konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis sebagai pedomanbagi perancang dan pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
            Sebagai seorang calon guru sangat penting untuk mengetahui model-model pembelajaran tersebut. Sehingga kita dapat merumuskan suatu langkah untuk memberikan pembelajaran kepada siswa yang efektiv. Hal ini terkait dengan heterogenitas tingkat kemampuan, kecepatan, minat siswa dalam belajar. Sangat penting dalam pembelajaran kita tahu model yang tepat kita gunakan untuk memberikan pelayanan secara optimal kepada siswa, dan menghindarkan siswa pada situasi yang membosankan.
            Dalam bab ini akan dibahas model pembeajaran klasikal, model individual dan model Cooperativ Learning. Dimana model ini banyak diterapkan oleh para guru di sekolah-sekolah. Perlu kita mengkaji apa kelebihan dan kekurangna model-model pembelajaran tersebut. Atau mungkin kita bisa menemukan model yang tepat untuk pembelajaran sesuai dengan lingkungan kita .

5.1  MODEL PEMBELAJARAN KLASIKAL DAN INDIVIDUAL
5.1.1      Pembalajaran Klasikal
Suatu kenyataan yang sering kali kita lihat, sebagian besar pengajaran di sekolah-sekolah menengah dan di perguruan tinggi diberikan secara klasikal. Artinya, pengajar memberi penjelasan kepada sejumlah murid atau mahasiswa secara lisan. Pembelajaran klasikal mencerminkan kemampuan utama guru, karena pembelajaran klasikal ini merupakan kegiatan belajar dan mengajar yang tergolong efisien. Pembelajaran secara klasikal ini berarti bahwa seorang guru melakukan dua kegiatan skaligus yaitu mengelolah kelas dan mengelolah pembelajaran. Pengelolan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara baik dan meyenangkan yang di lakukan di dalam kelas. Di ikuti sejumlah siswa yang di bimbing oleh seorang guru. Dalam hal ini guru di tuntut kemampuannya mengunkan tehnik-tehnik penguatan dalam pembelajaran agar ketertiban belajar dapat di wujudkan. Guru mengajar sekitar 30-40 orang siswa di sebuah ruangan. Dalam hal ini siswa memiliki kemampuan minimum dengan asumsi bahwa minat dan kecepatan belajarnya sama.
Ada tiga tahapan dalam pembelajaran klasikal tersebut :
1.      Bagian pendahuluan
Hal-hal yang dilakukan pada bagian pendahuluan ini berupa peletakan hubungan awal siswa dengan guru, misalnya dengan berkenalan atau bercerita. Biasanya, pada saat awal inilah akan muncul kesan-kesan yang akan menentukan terjalinnya suatu hubungan antara siswa dan guru dengan baik ataau tidak. Selanjutnya yaitu mengkap perhatian siswa. Yang dilakukan untuk menangkap perhatian siswa adalah pertama, merasionalkan apa yang diperhatikan oleh siswa dan berusaha mendekati apa yang menjadi motif siswa. Kedua, memotivasi siswa dengan memberi penjelasan terkait beberapa persyaratan yang diperlukan. Dan hal terakhir yang dilakukan dalam bagian pendahuluan adalah memberikan penjelasan esensi (isi) dari materi.
Apa tujuan dari kegiatan pendahuluan tersebut adalah :
a.       Meletakkan dasar komunikasi dengan kelas
b.      Memusatkan perhatian siswa pada topic yang dibicarakan
c.       Menyingkap isi materi yang akan dibicarakan
d.      Menyadarkan keterkaitan apa yang sudah diketahui dengan apa yang akan dibicarakan
e.       Menjelaskan tujuan perubahan “perilaku apa” yang diharapkan dari siswa setelah pelajaran selesai
2.      Batang tubuh
Inti dari pembelajaran klasikal adalah penyampaian materi pelajaran. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menyampaikan materi, diantaranya :
a.       ruang lingkup materi
b.      hubungan logis organisasi materi
c.       teknik menyampaikan materi
d.      perhatian siswa
Materi yang akan kita sampaikan kepada siswa akan terasa tanpa arti bila tidak ada perhatian siswa. Jadi sangat penting bagi bagi seorang siswa agar bisa memfokuskan perhatian siswa pada penjelasan materi yang disampaikan. Teknik dalam mendapatkan perhatian dari siswa :
a.       mengubah perangsang atau stimulus
b.      mengubah saluran kemunikasi
c.       mengatur aktivitas psikis
d.      menggunakan humor
e.       menunjukan sikap antusias terhadap topic yang dibicarakan
f.       menyisipakn tanya jawab
3.      Bagian penutup
Setelah menyampaikan materi, guru akan menutup kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan kesimpulan dari apa yang sudah dipelajari. Tujuan dari penyampaian kesimpulan tersebut adalah :
a.       Menciptakan suasana yang lebih akrab, ramah tama, dan rileks
b.      Memberi kesempatan siswa dalam menyampaikan ide
c.       Menjawab pertanyaan yang ada dalam pikiran siswa
d.      Melakukan review
Dari ketiga bagian tersebut, terlihat dominasi seorang guru dalam menentukan semua kegiatan pembelajaran. Guru memberikan penjelasan, memberikan contoh, memberikan soal, lalu kemudian mengevaluasi dengan kecepatan mengajar, urutan materi, kesukaran materi ditentukan sendiri oleh guru tersebut, tanpa mempedulikan keluhan-keluhan siswa. Yang menjadi acuannya hanyalah informasi secara umum saja. Akan sukar bagi seorang guru umtuk mengidentifikasi kemampuan individu siswa-siswanya, kecepatan belajar, serta minat belajarnya. Oleh karena itu seorang guru perlu menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran. Kegiatan mengajar yang dilakukan guru dengan pendekatan tertentu akan bermakna, apabila materi yang disajikan kepada siswa dapat dimengerti oleh sebagian besar siswa atau seluruh siswa. Harus dipahami, bahwa kadang-kadang guru dalam mengajar, melakukan pendekatan dengan cara lain sedangkan siswa juga melakukannya dengan pendekatan yang tidak diberikan oleh gurunya. Misalnya, guru menyampaikan operasi penjumlahan dengan pendekatan garis bilangan, tetapi siswa dapat melakukannya dengan pendekatan himpunan. Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran klasikal biasanya menggunakan pendekatan spiral. Pendekatan spiral adalah pendekatan yang dipakai untuk mengajarkan konsep. Selanjutnya dikatakan bahwa pendekatan spiral materi tidak diajarkan dari awal sampai selesai dalam sebuah selang waktu, tetapi diberikan dalam beberapa selang waktu yang terpisah-pisah. Pada selang waktu pertama konsep diajarkan secara sederhana, misalnya dengan cara intuitif melalui benda-benda konkret atau gambar-gambar sesuai dengan kemampuan murid. Pada tahap berikutnya konsep yang diajarkan secara sederhana dapat diperluas lagi, sehingga murid dalam belajar matematika dapat dilakukannya secara sistematik. Secara singkat dapat dikatakan pendekatan spiral merupakan suatu prosedur yang dimulai dengan cara sederhana dari konkret ke abstrak, dari cara intuitif ke analisa dari eksplorasi (penyelidikan) kepenguasaan dalam jangka watu yang cukup lama, dalam waktu yang terpisah-pisah mulai dari tahap yang paling rendah hingga yang paling tinggi.

Kelebihan Dan Kekurangan Dengan Pembelajaran Klasikal
1.      Kelebihan
a)         Guru mudah menguasai kelas
b)        Mudah mengorganisasikan tempat duduk
c)         Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang yang banyak
d)        Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
e)         Dapat menggunakan bahan pembelajaran yang luas
2.      Kekurangan
a)      Siswa menjadi verbalisme
b)      Bila terlalu sering digunakan dapat membuat bosan
c)      Siswa cenderung menjadi pasif
d)     Keberhasilan model pembelajaran ini sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya.

5.1.2      Pembelajaran Individual
Pembelajaran individual adalah pelatihan yang bersifat individual karena pertimbangan adanya perbedaan-perbedaan diantara para peserta didik. Menurut wina sanjaya (2008:128) strategi pembelajaran individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan dan keberhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan. Bahan pembelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri.
Ciri-ciri pembelajaran individu yaitu :
a.       Siswa belajar sesuai kecepatan masing-masing, tidak pada kelasnya
b.      Siswa akan belajar secara tuntas, karena akan ujian pada saat merasa siap
c.       Setiap unit yang dipelajari memuat tujuan pembelajaran khusus yang jelas
d.      Keberhasilan diukur dengan menggunakan nilai mutlak. Ia berkompetensi dengan angka, bukan teman.

Sebelum seorang guru melaksanakna pembelajaran secara individual, ia terlebih dahulu perlu melakukan asesmen untuk mengetahui tngkat kemampuan seorang anak.
Sekurang-kurangnya ada tiga kemampuan yang harus dikuasai guru agar dapat memberikan layanan pada anak berkebutuhan khsusus secara profesionala, yaitu : memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam :
1.      Mengsasmen kemampuan akademik, dan non akademik
2.      Merumuskan program pembelajaran individu
3.      Melakasanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak
Ada enam langkah yang dilakukan dalam melaksanakan kegiatan asasmen, yaitu :
1.      Mendapatkan anak (kasus)
Tidak semua orang tahu layanan apa yang harus diberikan pada anaknya, demikian juga problem yang dihadapi anak mereka. Melalui pengamatan yang teliti pada semua aspek prilaku belajar anak, pada akhirnya guru dapat menemukanaspek prilaku anak yang perlu segera mendapatkan layanan.
2.      Mengembangkan screening
Mengembangkan screening dimaksudkan untuk mengetahui banyak tentang perkembangan anak dan masalah-masalah yang potensial dapat mengganggu perkembangan anak.
3.      Melaksanakan diagnosis
Diangnosis merupakan kegiatan evaluative yang intensif terhadap kasus, yang dilakukan melalui observasi, wawancara, tes dan sebaginya. Melalui diagnosis ini dapat ditemukan kelemahan dan kelebihan kasus sehingga berdasar pada hasil ini dapat ditentukan layanan pendidikan yang sesuai.
4.      Merencanakan program layanan individual
Jika berdasarkan hasil diagnosis menunjukan bahwa anak perlu diberikan layanan dini maka segera disusun dan direncanakan program layanan individual.
5.      Melaksanakan program monitoring
Program monitoring yang dilaksanakan secara berkala dimaksudkan untuk mengetahui ketepatan program intervensi yang telah direncanakan.
6.      Melaksanakan evaluasi
Evaluasi yang dilakukan secara komprehensif terhadap setiap langkah asesmen, dapat memberikan gambaran terhadapa keefektifan program intervensi yang telah dirancang dan dilaksanakan. Kemudian juga melalui kegiatan evaluasi ini, interval yang telah di program diganti ataupun dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan anak.

Merumuskan Program Pembelajaran Individual
Dalam rumusan program pembelajaran individual, hendaknya memuat sekurang-kurangnya 5 (lima) aspek :
1.      Taraf kemampuan anak saat ini (diperoleh dari hasil asasmen), mendeskripsikan kelebihan, kekurangan dan aspek yang dibutuhkan anak.
2.      Rumusan tujuan umum yang akan dicapai dalam satu tahun dan dijabarkan lebih rincih pada rumusan tujuan yang bersifat khusus.
3.      Metode atau cara yang dipergunakan untuk mengembangkan kemampuan anak.
4.      Proyeksi tentang kapan kagiatan dimulai dan waktu yang dipergunakan untuk memberikan layanan.
5.      Proyeksi evaluasi apa yang dipergunakan untuk mengukur keberhasilan ataupun kegagalan dalam memberikan layanan pada anak.
Menurut Kitano dan Kirby (1986) dalam Mulyono Abdulrahman (2005) ada lima langkah dalam merumuskan program pembelajaran individual :
1.      Membentuk tim PPI, tim penyususn PPI terdiri atas guru kelas, guru bidang studi, kepala sekolah, guru GPK, orang tua atau tenaga ahli lain yang ada dan terkait dengan kondisi anak. Tim PPI ini bertanggungjawab atas program yang dirancang bersama.
2.      Menilai kekuatan, kelemahan , minat dan kebutuhan anak.
3.      Mengembangkan tujuan jangkah panjang dan tujuan jangkah pendek.
4.      Merancang metode dan prosedur pencapaian tujuan.
5.      Menentukan metode evaluasi yang dapat dipergunakan untuk menentukan kemajuan anak.
Kelebihan dan kekurangan dengan pembelajaran individual
1.      Kelebihan
§  Perbedaan-perbedaan yang banyak di antara para peserta dipertimbangkan.
§  Terbangunnya rasa percaya diri siswa, siswa menjadi mandiri dan tidak bergantung  pada orang lain.
§  Para peserta didik dapat bekerja sesuai dengan tahapan mereka dengan waktu yang dapat merekasesuaikan.
§  Gaya-gaya pembelajaran yang berbeda dapat diakomodasi.
§  Para peserta didik dapat lebih terkontrol mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari.
§   Merupakan proses belajar yang bersifat aktif bukan pasif
2.      Kekurangan
§  Memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan bahan-bahan.
§  Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan.
§  Peran instruktur perlu berubah
§  Jika siswa menemukan kendala dalam pembelajaran, minat  dan perhatian siswa dikhawatirkan berkurang karena enggan bertanya pada guru
§  Siswa menjadi tidak terbiasa bekerja dalam suatu team

5.2  MODEL KOOPERATIVE LEARNING
Model pembelajaran kooperatif memiliki basis pada teori psikologi kognitif dan teori pembelajaran sosial. Fokus pembelajaran kooperatif tidak saja tertumpu pada apa yang dilakukan peserta didik tetapi juga pada apa yang dipikirkan peserta didik selama aktivitas belajar berlangsung. Informasi yang ada pada kurikulum tidak ditransfer begitu saja oleh guru kepada peserta didik, tetapi peserta didik difasilitasi dan dimotivasi untuk berinteraksi dengan peserta didik lain dalam kelompok, dengan guru dan dengan bahan ajar secara optimal agar ia mampu mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Dalam model pembelajaran kooperatif, guru berperan sebagai fasilitator, penyedia sumber belajar bagi peserta didik, pembimbing peserta didik dalam belajar kelompok, pemberi motivasi peserta didik dalam memecahkan masalah,  dan sebagai pelatih peserta didik agar memiliki ketrampilan kooperatif.
Namun, ironisnya model pembelajaran Cooperativ Learning belum banyak diterapkan dalam pendidikan, walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermayarakat. Kebanyakan pengajar enggan menerapkan system kerja sama dalam kelas karena beberapa alas an. Alasan yang utama adalah kekhawatiran bahwa akan terjadi kekacauan dikelas dan siswa tidak belajar jika mereka ditetapkan dalam group. Selain itu, banyak orang mempunyai kesan negative mengenai kerja sama dalam kelompok. Banyak siswa juga tidak senang dosuruh kerja sama dengan yang lain.
Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam groupmereka. Sedangkan siswa yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam group dengan siswa yang lebih pandai. Siswa yang tekun juga merasa temannya yang kurang mampu hanya nurut saja pada hasil jerih payah mereka. Kesan negatif mengenai kegiatan belajar dalam kelompok ini juga timbul karena ada perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristi atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dalam kelompok. Sebenarnya, pembagian keja yang kurang adil tidak perlu terjadi dalam kerja kelompok, jika pengajar benar-benar menerapkan prosedur model pembelajaran Cooperative Learning maka sebenarnya proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif. Banyak pengajar hanya membagis siswa dalam kelompok lalu memberi tuga untuk menyelesaikan sesuatu tanpa pedoman mengenai pembaian tugas tersebut. Kelacauan dan kegaduhan yang tejadi dalam model belajar Cooperative Learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran Cooperativ Learning  dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif.
Sehingga esensisalnya bahwa semua model mengajar ditandai dengna adanya Struktur Tugas, Struktur Tujuan dan Struktur Penghargaan.
1.      Struktur Tugas, mengacu pada cara pembelajaran itu diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan siswa dalan kelas. Artinya siswa diharapkan melakukan apa selama pengajaran (baik tuntutan akademik maupum social).
2.      Struktur Tujuan, yaitu jumlah saling ketergantungan yang dibibutuhkan siswa saat mengerjakan tugas. Ada 3 macam struktur tujuan yaitu :
a.       Individualistik : siswa dalam pencapaian tujuan tidak memerlukan interaksi dengan orang lain dan yakin bahwa untuk mencapai tujuan tidak ada hubungan dengan upaya siswa yang lain.
b.      Kompetitif : siswa dalam mencapai tujuannya merupakan saingan dengan siswa lain artinya siswa akan mencapai tujuan apabila siswa lainnya tidak mencapai tujuan tersebut. Seperti misalnya lomba tarik tambang.
c.       Kooperatif : siswa akan mencapai tujuan apabila siswa yang lain juga menapai tujuan tersebut artinya tujuan akan secara bersama-sama dicapai apabila dalam jumlah siswa sama-sama ikut andil untuk sama-sama mencapai tujuan.
3.      Struktur Penghargaan : penghargaan individualistic dibeikan pada siswa siapapun yang tidak bergantung pada pencapaian siswa lain,penghargaan kompetitif diperoeh dari hasil persaingna dengan siswa lainya, sedangkan pengjargaan kooperatif juga diberikan karena usaha bersama beberapa siswa artinya penghargaan diberikan karena usaha bersama bukan usaha satu atau dua orang akan tetapi usaha kelompok.

5.3    PENGERTIAN COOPERATIVE LEARNING
Cooperative learningberasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Slavin mengemukakan, In cooperative learning methods, student work togetherin four member teams to master material initially presented by theteacher”.Dari uraian tersebut menguraikan metode pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja pada kelompok kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam bekerja.
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk – bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru,dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud.Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
Cooperative learning di definisikan sederhana sebagai sekelompokkecil pembelajaran yang bekerja sama menyelesaikan masalah, merampungkan tugas atau menyelesaikan tugas bersama.Dengan catatanmengharuskan siswa bekerja sama dan saling bergantung secara positifantar satu sama lain dalam konteks struktur tugas, struktur tujuan danstruktur reward. Gagasan ini upaya yang dirancang untuk menyampaikanmateri sedemikian rupa sehingga siswa bener bener bisa bekerja samauntuk mencapai sasaran sasaran pembelajaran sesuai tujuan pembelajarandalam ruang lingkup lebih luas yaitu kontribusi perkembangan terhadappendidikan di Indonesia searah dengan cita cita luhur pendiri bangsa ini.Jadi pembelajaran cooperatif merupakan model pembelajarandengan menggunakan sistem pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara 4sampai 6 orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik,jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen). Sistem penilaiandilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperolehpenghargaan (reward), jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yangdipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akanmempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yangselanjutnya akan memunculkan tanggung jawab individu terhadapkelompok dan keterampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok.
Setiap individu akan saling membantu, mereka akan mempunyai motivasiuntuk keberhasilan kelompok, sehingga setiap individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok.
Ada lima unsur membedakan cooperative learning dengan kerja kelompok yang dikenal pada umumnya yaitu:
§  Positive independence
§  Interaction face to face
§  Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok
§  Membutuhkan keluwesan
§  Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok).
Khas Cooperatie Learning yaitu siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kooperatif dan tinggal bersama dalam satu kelompok untuk beberapa minggu atau beberapa bulan. Sebelumnya siswa tersebut diberi penjelasan atau diberi pelatihan tentang bagaimana dapat bekerja sama yang baik dalam hal :
a.       Bagaimana menjadi pendengar yang baik
b.      Bagiamana memberi penjalasan yang baik
c.       Bagaiman cara mengajukan pertanyaan dengan benar dana lain-lain
Aktivitas Cooperatie Learning dapat memaikan banyak peran dalam pelajaran. Dalam pelajaran tertentu Cooperiv Learning dapat digunakan dengan 3 tujuan berbeda yaitu :
a.       Dalam pengajaran tertentu siswa sebagai kelompok yang berupaya untuk menentukan suatu
b.      Kemudian setelah jam pelajaran habis siswa dapat bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu yang telah dipelajarinya untuk persiapan kuis
c.       Bekerja dalam suatu format belajar kelompok

5.4  TUJUAN PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan system kompetisi, dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu :
a)   Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan social, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan koopertaif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat dapat member keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b)   Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain dari pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas social, kemampuan dan ketidak mampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
c)   Pengembangan keterampilan social
Tujuan penting ketida dari pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan berkolaborasi. Keterampilan-keterampilan social penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan social.

5.5  UNSRUR-UNSUR MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIV LEARNING
Pengajaran harus dirancang secara hati-hatisehingga setiap partisipan terlibat dalam proyek pengajaran dengan mengambil peranan yang berbeda seperti peran pemimpin, misalnya pengajar harus menyusun kelompok-kelompok kecil sehingga semua partisipan menggunakan peran kepemimpinan dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan bersama (Jhonson, 1993).
Pembelajaran kooperatif tidak merancang pengajaran seperti cara kompetitif atau individualistic dalam pelaksanaannya. Ketika pembelajran berlangsung dalam sebuah lingkungan belajara yang kompetitif, maka para partisipan cendrung bekerja dengan partisipan lainnya untuk mendapatkan sebuah tujuan yang mereka rasakan hanya bisa didapatkan oleh sejumlah secil partisipan. Para bebelajar selanjutnya merasaakan bahawa mereka dapat mereka dapat mencapai tujuan-tujuannya, jika pebelajara lainnya gagal, sebuah persepsi yang seringkali dihasilkan dalam beberapa diri pebelajar yang menganggap pelajaran mudah, karena mereka yakin tidak memiliki kesempatan untuk menang (Deutsch,1962). Evaluasi pembelajaran dalam lingkungan semacam ini adalah tidak memuaskan karena prestasi partisipan dinilai melalaui cara-cara referensi norm.
Ketika pembelajaran berlangsung dalam lingkungan individual, para partisipan bekerja sendiri untuk menyelesaikan tujuan-tujuannya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan teman sekelas lainnya.Meskipun lingkungan ini kondusif untuk mengevaluasi kinerja berdasarkan basis refrensi kriterium, kenyataannya bahwa tujuan-tujuan pembelajar bersifat independen yang berkontribusi terhapat persepso-persepsi pebelajar bahwa pencapaia tujuan-tujuannya tidakberhubungan dengan apa yang dilakukan oleh partisipan. Dalam kasus ini, kesempatan untuk bertumbuh melalui cara-cara kolaboratif hilang.
Ketika pembelajaran kooperatif apa yang dibutuhkan pengajar adalah menyususn pelatihan sehingga anggota-anggota dari kelompok-kelompok kecil yakin merupakan hasil bersama. Lebih lanjut, petunjuk seharusnya duberikan kepada kelompok-kelompok yang anggota-anggotanya mendapatkan pencapaiandari usaha-usaha anggota lainya bahwa anggota kelompok perlu membantu dan mendukung anggota lainnya untuk mendapatkan hasil yang ingin dicapai. Untuk melakukan ha tersebut, setiap anggota kelompok secara individual membagi akuntabilitas bersama untuk melakukan bagian pekerjaan kelompoknya. Akuntabilitas tersebut bergantung pada ngesuaan masing-masing anggota tim terhapat keterampilan kelompok kecil dan antar pribadi yang dibutuhkan untuk menjadi anggota kelompok yang efektif. Keterampilan-keterampilan tersebut adalah kemampuan untuk membahas seberapa baik kelompok bekerja dan apa yang dapat dikerjakan untuk meningkatkan pekerjaan kelompok (Jhonson, 1991).
Dalam hal ini, pebelajaran kooperatif nampak merupakan pendekatan filosofis, apa yang dinyatakan secara kuat oleh pembelajaran kooperatif adalah bahwa para pengajar memahami komponen-komponen yang membuat kerja sama itu berjalan. Menurut  Jhonson & Jhonson dan Sharan, komponen-komponen penting dari pembelajaran kooperatif adalah sebgai berikut :
1.      Ketergantungan positif
2.      Interaksi promotif langsung
3.      Akuntabilitas individual dan kelompok
4.      Keterampilan-keterampilan anatar pribadi dan kelompok kecil
5.      Pemrosesan kelompok

Ketergantungan Positif. Ketergantungan positif berlangsung keyika anggota-anggota berasa bahwa mereka berhubungan dengan satu sama lainya dalam suatu cara dimana seseorang tidak dapat mengerjakannya kecuali bekerja sama. Anggota kelompok-kelompok kecil berada dalam perahu yangs sama . Pada saat berlayar, kru perahu perlu menyadari bahwa mereka akan tenggelam dan berenang bersama-sama. Pengajar harus merancang dan mengkomunikasiakan tujuan dan tugas-tugas kelompok dalam cara-cara yang membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai pemahaman tersebut. Selanjunya masing-masing anggota kelompok memiliki kontribusi yang unik untuk melakukan usaha bersama. Pengajar seharusnya mrndefinisikan secara jelas peranan kelompok dan tanggung jawab, tugas dan mengacu pada kekuatan individu anggota.
Interaksi Promotif Langsung. Para pebelar perlu melakukan kerjasama nyata dalam waktu nyata, baik pada ruang pelatihan maupun pada pertemuan-pertemuan diluar ruangan. Selanjunya, pemrosesan informasi dalam pekerjaan terhadap pencaian sebuah tujuan, anggota-anggota kelompok harus meningkatkan keberhasilan satu sama lainnya dengan menyediakan sumber daya dan bantuan bersama, mendukung, menganjurkan dan menhargai usaha-usaha anggota kelompok lainya.
Akuntabilitas Individual dan Kelompok. Pada pendukung pembelajaran kooperatif menyatakan bahwa dua tingkatan akuntabilitas disusun menjadi pelajaran-pelajaran pembelajaran kooperatif. Kelompok harus bertanggung jawab atas pencapaian tujuan-tujuanya, dan masing-masing anggota harus bertanggung jawab dalam memberikan kontribusi pekerjaannya. Fasilitator menigkatkan akuntabilitas individual dengan menilai prestasi masing-masing individual agar dapat memastikan siapa yang membutuhkan lebih banyak bantuan, dukungan  dan anjuran dalam pembelajaran.
Keterampilan-keterampilan Anatarpribadi dan Kelompok Kecil. Pembelajaran kooperatif lebih kompleks dibandingkan dengan interaksi kelompok tidak terstruktur, yang biasanya menimbulkan pembelajaran kompetiti atau individual karena para siswa harus ikut serta secra simultan dalam mempelajari mata pelajaran dan kerja sama. Selanjutnya, para fasilitator dari pembelajaran kooperati harus focus pada keterampilan-keterampilan social yang harus diajarkan dengan tujuan dan tepat.
Pemrosesan Kelompok. Sebagian besar proses-proses pengajaran menekankan pentingnya penyampaian kandungan pengajaran secara efesien. Tujuan-tujuan yang ditentukan secara jelas, urutan logis, dan kondisi-kondisi pembelajaran yang semuanya menentukan seberapa baik bahan ajar akan dipelajari. Artinya, kemampuam kepemimpinan, membangun kepercayaan, dan komunikasi dapat diajarkan secara langsung (pekerjaan tugas): yaitu, keterampilan-keterampilan tersebut didapat secar dialami dalam sebuah kelompok kecil (pekerjaan tugas). Kelompok-kelompok perlu menjelasakan apakah tidakan-indakan anggota kelompok yang membantu dan tidak membantu serta membuat keputusan tentang prilaku apa yang diteruskan atau diubah. Proses pembelajaran adalah peningkatan yang berkelanjutan ketika anggota-anggota kelompok menganalisis seberapa baik mereka bekerja sama, dan bagi kelompok-kelompok untukmencapai sebuah tujuan pengajaran dengan baik, dimana mereka harus menenmpatkan proses secara sadar.
Pendapat lain dari Roger dan David Jhonson mengatakan bahwa tidak semua kerja keompok dapat dianggap cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsure model pembelajaran gotong royong harus ditetapkan.
1.      Saling ketergantungan positif
2.      Tanggung jawab perseorangan
3.      Tatap muka
4.      Komunikasi antar kelompok
5.      Evaluasi proses kelompok
Saling Ketergantungan Positif. Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Wartawan mencari dan menulis berita, redaksi mengedit dan dan tukang ketik mengetik tulisan tersebut. Rantai kerja sama ini berlanjut terus sampai dengan mereka yang dibagian percetakan dan loper surat kabar. Semua orang ini bekerja demi tercapainya satu tujuan yang sama, yatitu terbitnya sebuah surat kabar dan sampainya surat kabar tersebut ke tangan pembaca.
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Dalam metode jigsaw, Aronson menyarankan jumlah kelompok dibatasi sampai dengan empat orangsaja dan keempat anggota ini ditugaskan membaca bagian yang berlainan. Keempat anggota ini lalu berkumpul dan bertukar informasi. Selanjutnya, pengajara akan mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian. Dengan cara ini, mau tidak mau setiap anggota mereka merasa bertanggung jawab untuk mnyelesaikan tugasnya agar yang lain bisa berhasil.
Penilaian juga dilakukan dengan cara yang unik. Setiap siswa nilainya sendiri dan nilai kelompok. Nilai kelompok dibentuk dari “sumbangan” setiap anggota. Untuk menjaga keadilan, setiap anggota menyumbang poin diatas rata-rata mereka. Misalnya, nilai rata-rata si A adalah 65 dan kali ini dia mendapat 72, maka dia akan menyumbang 7 poin untuk nilai kelopok mereka. Dengan demikian, setiap siswa akan bisa mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan.
Beberapa siswa yang kurang mampu tidak akan merasa minder terdahap rekan-rekan mereka karena mereka memberikan sumbangan. Malahan mereka akan merasa terpacu untuk meningkatkan usaha mereka dan dengan demikian menaikkan nilai mereka. Sebaliknya, siswa yang lebih mampu juga telah memberikan sumbangan bagian sumbangan mereka.
Tanggung Jawab Perseorangan. Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsure yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajran cooperative learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kreteria kelompok adalah persiapan guru dalam menyusun tuganya.
Berbeda dengan Nasarudin yang masuk ke kelas dan meugaskan siswanya untuk saling berbagi saling berbagi tanpa persiapan, pengajar yang efektif dalam model pembelajran cooperative learning membuat persiapan dan menyusun sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawanya sendiri agar selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. Dalam teknik Jigsaw yang dikembangkan oleh Aronson misalnya, bahan bacaan dibagi menjaid empat abgian dan masing-masing pembelajaran mendapat daun membaca atau bagian. Dengan demikian, pembelajaran yang tidak melaksanakan tugasnya akan diketahui dengan jelas dan mudah. Rekan-rekan dalam satu kelompok aka menentukannya untuk melaksanakan tugas agar tidak menghambat yang lainya.
Tatap Muka. Setiap anggota kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota kelompok. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala. Lebih jauh lagi, hasil kerjas sama ini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing anggota. Inti dari strategi ini adalah menghargai perbedaan, manfaatkan kelebihan, dan mengisi masing-masing. Setiap anggota kelompok mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga, dan sosial-ekonomi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompok. Sinergi tidak bisa didapatkan begitu saja dalam sekejap, tapi merupakan proses kelompok yang cukup panjang. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sam lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi.
Komunikasi Antar Anggota.  Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagi keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajukan cara-cara komunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai mempunyai keahlian mendengankan dan beberbicara. Keberhasilan suatu kelompok juga pada kesedian para anggotanya untuk saling mendenganrkan dan kemampuan untuk mengutarakan pendapat mereka. Ada kelanya pembelajar perlu diberitahu secara ekplisit mengenai cara-cara mengkomunaikasi secra efektif seperti bagaiman carnya menyangga pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang tersebut. Namun, porses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan  perkembangan mental  dan emosional para siswa.
Evaluasi Proses Kelompok. Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evalusi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu. Setelah beberapa pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran cooperative learning format evalusi bisa bermacam-maacam, tergantunf pada tingkat pendidikan siswa.Berikut ini adalah contoh dua buah format evalusi proses kelompok untuk 2 kelompok usia atau kelas yang berbeda

5.6  PETUNJUK DAN LANGKAH-LANGKAH
Agar model pemebelajaran ini berjalan lebih koopertif maka sebagai petunjuk tahap-tahap yang harus dilakukan berdasarkan komponen pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
No.
TAHAP-TAHAP
KEGIATAN
1
Memilih tugas-tugas yang tepat
Perancang kursus seharsunya memastika apakah aplikasi, praktek, atau bagian pengajaran merupakan hal yang tepat untuk aktifitas kelompok. Aspek-aspek sosial dari muatan pengajaran harus ditunjukkan. Misalnya, pengajaran bahasa asing seharusnya memberi kesempatan untuk membicarakan bahasa dengan orang lain dalam sebuah kelompok. Menulis sebuah makalah dalam bahasa baru adalah aktivitas invidu.
2
Menentukan Ketergantungan Positif
Apabila aktivitas kelompok adalah penting untuk mempelajari keterampilan atau hal baru, maka pengajarar harus menyatakan secara jelas bahwa anggot- anggota kelompok “tenggelam” bersama-sama. Hasil-hasil dari pekerjaannya adalah sebuah refleksi dari sebuah kontribusi anggota tim.
3
Menfasilitasi kerjasama koperatif
Pengajar harus mendukung kelompok untuk menentukan kekuatan kekuatan yang unik dari masing masng kelompok. Untuk kelompok yang berhasil, perkerjaan harus menunjukanekuatan kekuatan dari semua anggotanya
4
Memberikan interaksi promotif langsung
Waktu yang memandai harus di berikan dalam periode pengajaran nteraksi langsung. Pengajar :
·         Seharusnya menunjukan/menjelaskan orma norma kelompok yang dapat di terima oleh kelompok atau
·         Memberikan gambaran gambaran dari pengalaman.
Sebaiknya, pengajar menyatkan :
·         Harapan tentang apa yang dimasukan dalam pertemuan, seperti pembgian pengetahuan, pengalaman dan hadiah.
5
Menentukan akuntabilitas induvidu dan kelompok
Fasilitatorv seharusnya menyembangkan :
·         Cara untuk mengevaluasi kinerja individual dan perkerjaan kelompok
·         Menyampaikan bagamana perkerjaan kelompok akan di nilai
·         Valuasi kelompok bisa merupakan skor skor indi
6
Menilai perkerjaan tugas dan kerjasama
Waktu harus diberikan pada anggotanya kelompok kecil untuk membahas prosesnya, mungkin pada akhir pertemuan kelompok. Anggota tim menjelaskan :
·         Tujuan pertemuan
·         Dimana mereka menyelesaikan tujuan,
·         Apa yang dikerjakan dengan baik dan apa yang akan di kerjakan secara berbeda
·         Mmbuata rencana untuk memasukan publik pada pertemuan berikutnya

Tabel langkah langkah Cooperative Learning
NO
LANGKAH LANGKAH
TINGKAH LAKU GURU

1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Pengajar menyampaikan semua tujuan pelajar yang ingin di capai dan memotovai siswa belajar
2.

Menyajikan informasi
Pengajar menyampaikan informasi pda siswa dengan jalan demonstarsi atau lewat bahan bacaan

3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kelompok belajar
Pengajar menjelaskan pada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dengan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

4
Membimbing kelompok berkerja dan belajar
Pengajar membimbing kelompok beajar pada saat siswa menggerjakan tugas

5

Evaluasi
Pengajar meng-evaluasi hasil belajar tentang materi yang telah di pelajari atau masing masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6
Memberikan penghargaan
Pengajar mencari cara cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar induvidu dan kelompok

 1)            Fase pertama
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. Guru mengklasifikasi maksud pembelajaran kooperatif. Hal ini penting untuk dilakukan karena siswa harus memahami dengan jelas prosedur dan aturan dalam pembelajaran.
 2)            Fase kedua
Guru menyampaikan informasi, sebab informasi ini merupakan isi
akademik.
3)               Fase ketiga
Guru harus menjelaskan bahwa siswa harus saling bekerja sama di dalam kelompok. Penyelesaian tugas kelompok harus merupakan tujuan kelompok. Tiap anggota kelompok memiliki akuntabilitas individual untuk mendukung tercapainya tujuan kelompok. Pada fase ketiga ini terpenting jangan sampai ada free-rider atau anggota yang hanya menggantungkan tugas kelompok kepada individu lainnya.
 4)            Fase keempat
Guru perlu mendampingi tim-tim belajar, mengingatkan tentangtugas-tugas yang dikerjakan siswa dan waktu yang dialokasikan. Pada fase inibantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, pengarahan, ataumeminta beberapa siswa mengulangi hal yang sudah ditunjukkan.
 5)            Fase kelima
Guru melakukan evaluasi dengan menggunakan strategi evaluasi yang konsisten dengan tujuan pembelajaran.
 6)            Fase keenam
Guru mempersiapkan struktur reward yang akan diberikan kepada siswa. Variasi struktur reward dapat dicapai tanpa tergantung pada apa yang dilakukan orang lain. Struktur reward kompetitif adalah jika siswa diakui usaha individualnya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Struktur reward kooperatif diberikan kepada tim meskipun anggota tim-timnya saling bersaing.



5.7  TEKNIK TEKNIK PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING
Sebagai seorang professional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan Srategi strategi pembelajaran. Tidak semua srategi diketahuinya harus dan bisa diterapkan dalam
Kenyataan sehari hari diruang kelas. Meski demikian, guru yang bail tidak akan terpaku pada saat srategi saja. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik teknik pembelajaran yang pasi akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kgiatan belajar mengajar sehari hari. Guru bisa memmilh dan juga memodifikasi sendiri teknik teknik
Pada situasi kelas mereka. Dalam satu jam/sesi pelajaran, guru juga bisa memakai lebih dari satu teknik.
Ø  Teknik belajar mengajar gotong royong
a)      Mencari pasangan (make a match)
§  Diembangi oleh Lama Curran
§  Siswa mencari pasangan stabil belajar mengenai suatu konsep atau topikdalam suasana yan mnyenangkan
§  Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
                   CARANYA:
1.      Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi tentang beberapa topi yang mungkin cocok untuk sesi review (pesiapan menjelang ujian)
2.      Setaip siswa mendapatkan satu buah kartu
3.      Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya Misalnya,pasangan kartu yang bertuliskan PERSEBAYA berpasangan dengan pemegang kartu PESEBAYA. Atau pemegang kartu ang berisi anma SBY berpasangan dengan pemegang kartu PRESIDE RI.
4.      Siswa bisa jga bergabung dengan 2atau 3 siswa lain yang memegang kartu yang cocok. Msalnya, pemegag kartu 3+3 membentuk kelompok dengan pmegang kartu 2x4 dan 1x5
b)       Bertukar pasangan
§  Memberi kesempatan siswa untuk berkerja saa dengan orang lain
§  Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkata usia anak didik
CARANYA:
1.      Setiap siswa mendapatkan sat pasangan (guru bisa menunjuk pasangan atau siswa melakukan prosedur teknik mencari pasangan)
2.      Guru memberikan tugas dan siswa mngerjakan tugas dengan pasangan
3.      Setelah selesai, setia pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain
4.      Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan. Masing masing pasangan yang baru ini kemudian saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka.
5.      Temuan baru yang didapat dari pertukarang pasangan kemudian dibagikan kepasangan lainnya
c)       Berpikir berpasangan-Berempat
§  Dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-pair-share) dan spencer kagan (Think-pair-square) sebagai stuktur kegiatan pembelajaran gotong royong
§  Memberi siswa kesempatan untuk berkerja sendiri serta berkerja sama dengan orang lain
§  Optimilasi partisipasi siswa.
§  Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk sseluruh kelas.
§  Memberi ksempata sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukan partisipasi mereka kepada orang lain.
§  Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran an untuk semua tingkatan usia anak didik.

CARANYA:
1.      Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok
2.      Setap siswa memikiran dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
3.      Siswa berpasangan denagan salah satu rekan dalam kelompok berdiskusi dengan pasangan
4.      Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat
d)     Berkirim salam dan soal
§  Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk melatih pengetahuan dan keterampinnya
§  Siswa membuat pertanyaan sendiri, sehingga akan merasah lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelas.
§  Cocok untuk persiapan menjelang tes dan ujian
§  Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik
CARANYA :
1.      Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan setiap kelompok ditugaskan untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang akan dikirim ke kelompok lain. Guru bisa mengawasi dan membantuh memilih soal-soal yang cocok.
2.      Kemudian, masing-masing kelompok mengirimkan satu orang utusan yang akan menyampaikan salam dan soal dari kelompoknya ( salam keompok bisa berupa sorak lelompok seperti yang dijelaskan)
3.        Setiop kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok lain.
4.        Setelah selesai, jawaban masing-masing kelompok dicocokkan dengan jawaban kelompok yang membuat soal.

e)      Kepala Bernomor (Numbered Heads).
§  Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992).
§  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ideide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.
§  Mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka.
§  Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
CARANYA:
1.      Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.      Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3.      Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
4.      Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
f)       Kepala Bernomor Terstruktur.
§  Teknik belajar ini sebagai pengembangan dari teknik Kepala Bernomor.
§  Memudahkan dalam pembagian tugas.
§  Memudahkan siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan sekelompoknya.
§  Bisa digunakan untuk semua mata pelajaran serta semua tingkatan usia anak didik.
CARANYA:
1.      Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.      Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya.
Misalnya:
Siswa nomor 1 bertugas membaca soal dengan benar dan mengumpulkan data yang mungkin berhubungan dengan penyelesaian soal. Siswa nomor 2 bertugas mencari penyelesaian soal. Siswa nomor 3 mencatat dan melaporkan hasil kerja kelompok.
3.      Jika perlu (untuk tugas-tugas yang lebih sulit), guru juga bias mengadakan kerja sama antar kelompok. Siswa bisa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.
Catatan:
Untuk efisiensi pembentukan keigmpok dan penstrukturan tugas, Teknik
Kepala Bernomor ini bisa dipakai dalam kelompok yang dibentuk
permanen. Artinya, siswa disuruh mengingat kelompok dan nomornya
sepanjang caturwulan atau semester. Supaya ada pemerataan tanggung
jawab, penugasan berdasarkan nomor bisa diubah-ubah. Misalnya, siswa
nomor 1 bertugas mengumpulkan data kali ini, tapi akan disuruh
melaporkan pada kesempatan yang lain.
Untuk Variasi:
Struktur Kepala Bernomor ini juga bisa dilanjutkan untuk mengubah
komposisi kelompok dengan cara yang efisien. Pada saat-saat tertentu, siswa
bisa keluar dari kelompok yang biasanya dan bergabung dengan
siswa-siswa lain yang bernomor sama dari kelompok lain. Cara ini bisa
digunakan untuk mengurangi kebosanan/kejenuhan jika guru
mengelompokkan siswa secara permanen.
g)      Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray).
§  Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992).
§  Dapat digunakan bersama dengan Teknik Kepala Bernomor.
§  Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
§  Memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain.
§  Banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu.
§  Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal kenyataan hidup di luar sekolah kehidupan dan kerja saling bergantung satu dengan yang lainnya. Christophorus Columbus tidak akan menemukan benua Amerika jika tidak tergerak oleh penemuan Galileo Galilei yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Einstein pun mendasarkan teori pada teori Newton.
CARANYA:
1.      Siswa bekerja sama dengan kelompok berempat seperti biasa.
2.      Setelah selesai, 2 orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok.
3.      Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
4.      Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
5.      Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
h)     Keliling Kelompok
§  Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk sernua tingkatan usia anak didik.
§  Dalam kegiatan Keliling Kelompok, masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kantribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain.
CARANYA:
1.      Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan.
2.      Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya.
3.      Demikian seterusnya. Giliran bicara bisa dilaksanakan menurut arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.
i)        Kancing Gemerincing
§  Teknik ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992).
§  Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
§  Dalam kegiatan Kancing Gemerincing, masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain.
§  Teknik ini dapat digunakan untuk mengatasi hambatan pemerataan kesempatan yang sering mewarnai kerja kelompok.
§  Dalam banyak kelompok, sering ada anak yang terlalu dominan dan banyak bicara. Sebaliknya, juga ada anak yang pasif dan pasrah saja pada rekannya yang lebih dominan. Dalam situasi seperti ini, pemerataan tanggung jawab dalam kelompok bisa tidak tercapai karena anak yang pasif terlalu menggantungkan diri pada rekannya yang dominan.
§  Teknik ini memastikan setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berperan serta.
CARANYA:
1.      Guru menyiapkan satu kotak kecil yang berisi kancing-kancing (atau benda kecil lainnya).
2.      Sebelum kelompok memulai tugasnya, setiap siswa masing-masing kelompok mendapatkan 2 atau 3 buah kancing (jumlah kancing tergantung pada sukar tidaknya tugas yang diberikan).
3.      Setiap kalo siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat, dia harus menyerahkan salah satu kancingnya dan meletakkannya ditengah-tengah.
4.      Jika kancing yang dimiliki siswa habis, dia tidak boleh berbicara lagi sampai semua rekannya juga menghabiskan kancingnya.
5.      Jika semua kancing sudah habis, sedangkan tugas belum selesai, kelompok boleh mengambil kesepakatan untuk membagi-bagi kancing lagi dan mengulangi prosedurnya kembali.
j)        Keliling Kelas
§  Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik
§  Bila teknik ini digunakan untuk anak-anak tingkat dasar, maka perlu disertai dengan manajemen kelas yang baik supaya tidak terjadi kegaduhan.
§  Masing-masing kelompok mendapatkan kesempatan untuk memamerkan hasil kerjanya dan melihat hasil kerja kelompok lain.
CARANYA:
1.      Siswa bekeria sama dalam kelompok seperti biasa.
2.      Setelah selesai, masing-masing keiompok memamerkan hasil kerja mereka. Hasil-hasil ini bisa dipajang di beberapa bagian kelas jika berupa poster atau gambar-gambar.
3.      Masing-masing kelompok berjalan keliling kelas dan mengamati hasil karya kelompok-kelompok lain.
k)      Lingkaran Kecil Lingkaran Besar (inside Outside Circle)
§  Dikembangkan oleh Spencer Kagan
§  Untuk memberikan kesempatan pada siswa agar saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan.
§  Pendekatan ini bisa digunakan dalam berberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, matematika, dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang membutuhkan pertukaran pikiran dan informasi antarsiswa.
§  Salah satu keunggulan teknik ini adalah adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.
§  Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
§  Bisa digunakan untuk semua tingkatan usia anak didik dan sangat disukai, terutama oleh anak-anak.



CARANYA:   
Lingkaran Individu,
1.      Separuh kelas (atau seperempat Jika jumlah siswa terlalu banyak) berdiri membentuk lingkaran kecil. Mereka berdiri melingkar dan menghadap keluar.
2.      Separuh keias lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran yang pertama. Artinya, mereka berdiri menghadap ke dalam dan berpasangan dengan siswa yang berada di lingkaran dalam.
3.      Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Siswa berada dilingkaran kecil yang memulai. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan.
4.      Kemudian, siswa yang berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah perputaran jarum jam. Dengan cara ini, masing-masing siswa mendapatkan pasangan yang baru untuk berbagi.
5.      Sekarang giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang membagikan
informasi. Demikian seterusnya.
Lingkaran Kelompok,
1.      Satu kelompok berdiri di lingkaran kecil menghadap keluar. Kelompok lain berdiri di lingkaran besar.
2.      Kelompok berputar seperti prosedur lingkaran individu yang dijelaskan di atas dan saling berbagi.
Variasi:
Untuk kelas taman kanak-kanak atau sekolah dasar, perputaran. Lingkaran besar berputar, sementara semua siswa menyanyi. Di tengah-tengah lagu, guru mengatakan “STOP”. Nyanyian dan perputaran lingkaran dihentikan. Siswa saling berbagi.
l)        Tari Bambu
§  Teknik ini dikembangkan atau modifikasi dari Lingkaran Kecil Lingkaran Besar.
§  Di banyak kelas, dalam Lingkaran Kecil Lingkaran Besar sering tidak bisa dipenuhi karena kondisi penataan ruang kelas yang tidak menunjang. Tidak ada cukup ruang di dalam kelas untuk membentuk lingkaran dan tidak selalu memungkinkan untuk membawa siswa keluar dari ruang kelas dan bela jar di luar empat dinding ruang kelas. Kebanyakan ruang kelas di Indonesia memang ditata dengan model klasikal/ tradisional. Bahkan banyak penataan tradisional ini bersifat permanen, yaitu kursi dan meja sulit dipindahkan.
§  Teknik ini diberi nama Tari Bambu, karena siswa berjajar dan saling berhadapan dengan model yang mirip seperti dua potong bambu yang digunakan dalam Tari Bambu Filipina yang juga populer di beberapa daerah di Indonesia.
§  Dalam kegiatan belajar mengajar teknik ini, siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan.
§  Pendekatan ini bisa digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, matematika, dan bahasa.
§  Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adaolah bahan yang membutuhkan pertukaran pengalaman, pikiran, dan informasi antarsiswa.
§  Salah satu keunggulan teknik ini adalah adanyastruktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.
§  Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkornunikasi.
§  Tari Bambu bisa digunakan untuk sernua tingkatan usia anak didik.
CARANYA:
Tari Bambu Individu ,
1.      Separuh kelas (atau seperempat jika jumlah siswa telalu banyak) berdiri berjajar. Jika ada cukup ruang, mereka bisa berjajar didepan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu yang relatif singkat.
2.      Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama.
3.      Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi informasi.
4.      Kemudian, satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah keujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini, masing-masing siswa mendapatkan paangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan.
Tari Bambu Kelompok ,
1.      Satu kelompok berdiri di satu jajaran berhadapan dengan kelompok lain.
2.      Kelompok bergeser seperti prosedur Tari Bambu Individu di atas dan saling berbagi.
m)   Jigsaw
§  Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson sebagai metode Cooperative Learning.
§  Teknik ini bisa digunakan dalarn pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.
§  Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
§  Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama, dan bahasa.
§  Teknik ini cocok untuk semua kelas/tingkatan.
§  Dalam teknik ini, guru memperhatikan skernata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.
§  Selain itu, siswa bekerja dengan sesamna siswa dalam suasana gotong
§  royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi
§  dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
                    

                        CARANYA:
1.      PengaJar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi empat bagian.
2.      Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu.
3.      Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar iebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru.
4.      Siswa dibagi dalam kelompok berempat. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yeang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua. Demikian seterusnya.
5.      Kemudian, siswa disuruh membaca/mengerjakan bagian mereka masing-masing.
6.      Setelah selesai, siswa saling berbagi mengenai bagian yang dibaca/dikerjakan masing-masing. Dalarn kegiatan ini, siswa bisa saling melengkapi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
7.      Khusus untuk kegiatan membaca, kemudian pengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masingmasing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
8.      Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara ,pasangan atau dengan seluruh kelas.
Variasi:
Jika tugas yang dikerjakan cukup sulit, siswa bisa membentuk Kelompok Para Ahli. Siswa berkumpul dengan siswa lain yang mendapatkan bagian yang sama dari keliompok lain. Mereka bekerja sama mempelajari/mengerjakan bagian tersebut. Kemudian, masing-masing siswa kembali ke kelompoknya sendiri dan membagikan apa yang telah dipelajarinya kepada rekan-rekan dalam kelompoknya.
n)      Bercerita Berpasangan (Paired Storytelling),
§  Dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran (Lie, 1994).
§  Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.
§  Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
§  Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelaiaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama. dan bahasa.
§  Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif.
§  Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.
§  Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.
§  Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar.
§  Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
§  Bercerita Berpasangan bisa digunakan untuk semua tingkatan usia anak didik.
CARANYA:
                                                        1.          Pengajar membagi bahan pelaiaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
                                                        2.          Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Dalam kegiatan ini, pengajar perlu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar bukanlah tujuannya. Yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberikan hari itu.
                                                        3.          Siswa dipasangkan.
                                                        4.          Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
                                                        5.          Kemudian siswa disuruh membaca atau mendengarkan (dalam pelajaran di laboratorium bahasa) bagian mereka masing-masing.
                                                        6.          Sambil membaca/mendengarkan, siswa disuruh mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing. Jumlah kata/frase bisa disesuaikan dengan panjangnya teks bacaan.
                                                        7.          Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.
                                                        8.          Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca/didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca/didengarkan (atau yang sudah dibaca / didengarkan pasangannya) berdasarkan kata-kata/frasa-frasa kunci dari pasangannya. Siswa yang telah membaca/mendengarkan bagian yang pertama berusaha untuk
                                                        9.          menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sedangkan siswa yang membaca/mendengarkan bagian, yang kedua menuliskan apa yang  terjadi sebelumnya.
                                                    10.          Tentu saja, versi karangan sendiri ini tidak harus sama dengan bahan yang sebenarnya. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dan mengaiar. Setelah selesai menulis, beberapa siswa bisa diberi kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.
                                                    11.          Kemudian, pengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
                                                    12.          Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.

5.8  PELAKSANAAN PELAJARAN COOPERATIVE LEARNING
Tugas-Tugas Perencanaan
Beberapa tugas perencanaan dan keputusan yang unik yang dibutuhkan oleh pengajar dalam mempersiapkan diri mengajar dalam pelajaran Cooperative Learning.
1.      Memilih Pendekatan
Empat pendekatan yang seharusnya merupakan bagian dari kumpulan strategi pengajar pemula adalah sebagai berikut:
a.    Student Teams Achievement Division (STAD).
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkin, merupakan pendekatan Cooperatif Learning yang paling sederhana. STAD mengacu pada belajar kelompok,menyajikan informasi akademik baru pada siswa setiap minggu dengan menggunakan presentasi verbal dan teks.
·         Siswa dalam 1 kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok dengan jumlah 4 atau 5 orang.
·         Setiap kelompok harus heterogen yaitu laki dan perempuan, bermacam suku dan kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
·         Anggota tim menggunakan lembar kegiatan untuk menuntaskan pelajarannya.
·         Kemudian saling membantu sama lain untuk memahami pelajaran melalui tutorial, kuis dan melakukan diskusi.
·         Setiap minggu atau 2 minggu siswa diberi kuis. Kuis diskor dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor perkembangan tidak berdasarkan skor mutlak siswa tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor siswa yang lalu.
·         Setiap minggu lembar penilaian diumumkan dengan skor tertinggi.
·         Kadang-kadang seluruh tim yang mencapai kriteria tertentudicantumkan dalam lembar tersebut.

b.      JIGSAW
Jigsaw dikembangkan dan diuji coba Elliot Aroson bersama teman-teman Universitas Texas, kemudian diadaptasikan oleh Slavin.
·         Siswa dibagi berkelompok dengan 5 atau 6 anggota kelompok belajar heterogen.
·         Materi diberikan dalam bentuk teks.
·         Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu dari bahan yang diberikan
·         Anggota dari kelompok lain juga mempelajari hal yang sama.
·         Kelompok tersebut kita sebut dengan kelompok ahli
·         Selanjutnya anggota tim ahli kembali ke kelompok asal danmengajarkan apa yang dipelajarinya dan didiskusikan dalamkelompok ahlinya untuk diajarkan pada temen sekelompoknya.
·         Pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa dikenai kuis secaraindividual tentang materi belajar.
·         Jigsaw versi Slavin, skor tim menggunakan prosedur skoring yangsama dengan STAD yaitu Tim dan individu yang mendapat skortinggi mendapat pengakuan dalam lembar pengakuan mingguan.
c.       Investigasi Kelompok ( IK )
Model ini merupakan model Cooperative Learning yang paling kompleksdan sulit diterapkan. Model ini dikembankan oleh Thelan dan dipertajam oleh Sharan.
·         Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang rumityaitu mengajar siswa ketrampilan komunikasi dan proses kelompokyang baik.
·         Pengajar membagi kelompok dengan anggota 5 atau 6 yangheterogen.
·         Untuk beberapa kasus, kelompok dibentuk dengan mempertimbangkankeakraban atau minat yang sama dalam topik tertentu.
·         Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki.
·         Kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporannya padaseluruh kelas.
Sharan dkk (1984) menetapkan 6 tahap IK yaitu:

1)    Pemilihan Topik, Siswa memilih topik yang biasanya sudah ditetapkan oleh pengajar, selanjutnya siswa diorganisasi menjadi 2 s/d 6 anggota tiap kelompok menjadi kelompok yang berorientasi tugas dimana dalam kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.
2)    Perencanaan Kooperatif, Siswa dan pengajar merencanakan prosedur pembelajaran dan tujuan khusu yang konsisten dengan topik yang dipilih.
3)    Implementasi, Siswa menerapkan rencana yang telah dikembangkan. Kegiatan hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan ketrampilan yang luas dan juga mengarahkan siswa pada jenis sumber belajar yang berbeda baik didalam maupun diluar kelas. Pengajar secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
4)    Analisis dan Sistesis, siswa menganalisi dan mengevaluasi informasi danmerencanakan bagaimana informasi tersebut diringkat dan disajikan dengan menarik untuk dipresentasikan pada seluruh kelas.
5)    Presentasi Hasil Final, semua kelompok mempresentasikan dengan menarik agar siswa lain saling terlibat sehingga memperoleh perspektif
yang lebih luas dan presentasi ini dikoordinasi oleh pengajar.
6)    Evaluasi, Kelompok-kelompok menangi aspek yang berbeda dari topik
yang sama, siswa dan pengajar mengevaluasi tiap kontribusi kelompom terhadap kerja kelas. Evaluasi dalam bentuk individual dan kelompok.
7)    Pendekatan Struktural
Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagen dkk (1993),pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Kagen menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih menekankan pada penghargaan kooperatif daripada individual. Ada struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan perolehan isi akademik ada juga yang dirancang untuk mengajarkan ketrampilan social atau ketrampilan kelompok. Ada 2 macam struktur yang dikembangkan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk men-cek pemahaman siswa terhadap isi tertentu yaitu Think-pair-share dan Numbered-head-togather, sedangkan untuk mengajarkan ketrampilan sosial yaitu Active Listening dan Time token:
a.       Think-pair-share
Dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland (1985).Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusiperlu dilakukan dalam seting seluruh kelompok.
§  Prosedur ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktuuntuk banyak berfikir, menjawab dan saling membantu.
§  Pengajar menginginkan siswa memikirkan secara mendalam tentang apa yang telah dialami.
§  Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Tahap: 1, Thinking (berfikir). Pengajar mengajukan pertanyaan,kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebutsecara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap: 2, Pairing. Pengajar meminta siswa untuk berpasangandengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan.Dalam tahap ini diharapkan berbagi jawaban. Biasanya pengajarmemberi waktu 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
Tahap: 3, Share. Pengajar meminta pada pasangan untuk berbagi seluruh kelas untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yangtelah dibicarakan secara bergiliran untuk melaporkan.
b.      Numbered-head-together
Dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi dan mencek pemahamanterhadap isi pelajaran. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Tahap: 1, Penomoran. Pengajar membagi siswa dalam kelompok yangberanggota 3 – 5 orang dan diberi nomor 1 sampai 5.
Tahap: 2, Mengajukan Pertanyaan. Pengajar mengajukan pertanyaanyang bervariasi pada siswa. Pertanyaan dapat berbentuk pertanyaanatau arahan misalnya: Pastikanlah bahwa bumi tersebut bulat.
Tahap: 3, Berfikir Bersama. Siswa menyatukan pendapat terhadapjawaban pertanyaan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnyamengetahui jawaban tersebut.
Tahap: 4, Menjawab. Pengajar memanggil satu nomor tertentu,kemudian nomor yang disebut siswa mengacungkan tangannya danmenjawa pertanyaan untuk seluruh kelas.

Tabel: 4, Perbandingan 4 Pendekatan Dalam Cooperative Learning

2.      Memilih Materi Yang Sesuai
Model ini membutuhkan pengarahan diri dan inisiatif siswa yangmemadai. Tanpa isi yang memberikan tantangan yang sesuai danmenarik, Cooperative Learning akan bubar atau gagal. Pengajarhendaknya tanggap pada perkiraan tingkat perkembangan mental danminat siswa. Ada beberapa pertanyaan untuk dipertimbangkan dalammenentukan materi yaitu:
·         Apa siswa sudah mengenal materi tersebut sebelumnya ataumembutuhkan penjelasan tentang materi tersebut ?
·         Apa materi tersebut menarik bagi siswa ?
·         Jika pengajar merencanakan untuk menggunakan teks, apakah ia telahmemberikan informasi yang cukup tentang topik itu ?
·         Untuk pelajaran STAD dan JIGSAW, apakah meteri itumemungkinkan untuk kiis objektif yang dapat diteskan dan skorsecara cepat ?
·         Untuk pelajaran JIGSAW, apakah materi yang akan diajarkan secaraalami dapat dibagi menjadi beberapa bagian (sub-topik) ?
·         Untuk pelajaran investigasi kelompok, Apakah pengajar memilikipenguasaan yang cukup untuk memandu siswa kedalam sub topic dan mengarahkanmereka pada sumber yang relevan ? Apakahtersedia sumber yang relevan itu ?
3.      Pembentukan Kelompok Siswa
Tugas ini bervariasi tergantung pada tujuan yang ingin dicapai denganmempertimbangkan latar belakang, etnik, suku dan tingkat kemampuansiswa dalam kelas. Oleh karena itu dalam menentukan kelompok,pengajar dalam perencanaannya harus menetapkan tujuan akademik dansosial secara jelas. Akhirnya karakteristik utama dalam hal ini harusdikorbankan untuk memenuhi karakteristik umum.
4.      Pengembangan Materi dan Tujuan
Walau materi telah disampaikan secara verbal yang bermakna ataudemonstrasi yang disertai ketrampilan tertentu, akan tetapi informasiumumnya disampaikan dalam bentuk teks, lembar kegiatan danpanduan belajar. Jika diberikan teks, maka teks harus menarik.Menggunakan teks perguruan tinggi umumnya tidak cocok untuk tingkatusia dasar kecuali pada tingkatan SMU tingkat tinggi. Untuk investigasikelompok tentunya mengumpulkan materi yang cukup memadai.Sebelum mulai pembelajaran pengajar dapat menyampaikan tujuan danmengetahui jumlah siswa yang terlibat. Beberapa petunjuk untukmerencanakan Cooperative Learning.
·         Lakukan pertemuan dengan pustakawan sekolah dan laboransekurang-kurangnya 2 minggu sebelum pelajaran dan utarakan tujuanpelajarannya. Tanyakan ide mereka dan mintalah bantuan.
·         Tindak lanjuti pertemuan tersebut dengan catatan ringkasan ide-idesingkat dan kesepakatan-kesepakatan.
·         Periksalah kembali beberapa hari sebelumnya bahan-bahan yang andaperlukan untuk memastikan segala sesuatunya telah siap.
·         Bila bahan itu harus anda gunakan di kelas,mintalah laboranmembantu anda, termasuk bila perlu untk menjelaskan kepada siswa.
5.      Mengenal Siswa Kepada Tugas dan Peran
Sangat penting untuk menjelaskan bagaimana Cooperative Learningditerapkan tentang tugas, tujuan dan struktur penghargaan yang unik.Petunjuk tersebut hendaknya juga ditempel seperti poster dan berisikantentang:
·         Tujuan Pelajaran
·         Apa yang diharapkan untuk dilakukan siswa sambil bekerja dalamkelompoknya.
·         Batas waktu untuk menyelesaikan tugas atau aktivitas.
·         Jadwal pelaksanaan kuis bila menggunakan STAD atau JIGSAW.
·         Jadwalkanlah presentasi kelas bila menggunakan investasi kelompok.
·         Prosedur pemberian nilai untuk menghargaan individu dankelompok.
·         Format untuk presentasi laporan.
6.      Merencanakan Waktu dan Tempat
Kebanyakan pengajar meremehkan jumlah waktu yang akandigunakan. Dalam Cooperative Learning banyak menyita waktu untuksiswa berinteraksi tentang ide-ide. Melakukan peralihan dari seluruhkelas pada kelompok kecil akan memakan waktu yang banyak. Olehkarena itu dengan perencanaan yang matang dapat membantu pengajaruntuk lebih realistik tentang persyaratan waktu dan meminimalkanjumlah waktu yang terbuang.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

REFERENSI SOAL-SOAL POST TES PPG 2025_FPPN 3 MODUL PEMBELAJARAN FILOSOFI PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN NILAI

REFERENSI SOAL-SOAL POST TES PPG 2025_PSE 3 MODUL PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

REFERENSI SOAL-SOAL POST TES PPG 2025_FPPN 1 MODUL PEMBELAJARAN FILOSOFI PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN NILAI